Tanpa kusadari setahun sudah waktu beranjak. Siapapun pasti ingin perubahan. Tidak terkecuali dia. Tidak kurang dari 100 orang yang mendoakannya di setiap awal tahun. Ya, bocah itu, eh maksudku gadis itu berulang tahun pada 3 Januari. Mulai dari keluarga, kerabat dekat, sahabat, teman, kenalan, bahkan orang yang sok kenal pun tak henti2nya menghiasi wall facebooknya. Ucapan itu tidak hanya datang dihari dia berulang tahun, tapi berlarut hingga berhari-hari. Hmm aku tidak heran mengapa begitu banyak yang memperhatikan dia. Sosoknya yang ramah membuat dia begitu digemari. Tidak hanya itu, parasnya yang elok juga membuat banyak laki-laki tidak akan ragu untuk menjadikannya teman bahkan lebih dari itu.
Gadis itu memang ramah. Hampir semua orang yang ingin berteman dengannya dilayani dengan baik, meskipun terkadang asal usulnya tidak jelas. Sikapnya seperti itulah yang membuat facebooknya tidak pernah sepi. Ibarat pasar yang tak pernah sepi pengunjung, hari-harinya sekarang menjadi lebih ramai. Belum lagi perhatian dari sang kekasih yang selalu mengawasinya dari kejauhan. Keramahan ini sering kali disalah artikan. Beberapa teman facebooknya begitu berani mengumbar kata cinta, mereka mengobral kata sayang begitu saja. Seolah gadis itu adalah satu-satunya opsi pilihan yang tersisa. Tapi apalah arti itu baginya, itu cuma kata-kata, hanya beberapa huruf yang keluar sebagai ungkapan belaka. Dia tidak begitu memikirkannya dan menganggap sebagai angin lalu. Aku tau tentang itu karena aku selalu mengawasinya. Aku tidak tau apakah dia merasa diawasi atau tidak. Yang penting aku tidak terlalu khawatir dengan keramahan nya yang disalah artikan. Karena dia adalah orang yang punya pendirian, punya pertimbangan yang matang, dan selalu menghormati janji-janji yang pernah dibuat. Sungguh aku kagum dengan sifat itu.
31 Januari 2011, Aku mendapat kesempatan untuk bertemu dengannya. Aku datang untuk berlibur dan melepas pikiran dari rasa lelah. Ditemani seorang sahabat, aku pun berangkat meninggalkan tanah air menuju tanah kelahiran gadis itu. Perjalanan itu terasa begitu singkat. Belum sempat kupejam mata untuk beristirahat, pramugari pesawat itu sudah mengisyaratkan untuk mendarat. Kami pun berhasil mendarat dengan selamat. Alhamdulillah. Ini adalah perjalanan pertamaku ke luar negeri tanpa ditemani orang yang berpengalaman. Begitupun dengan sobatku, kami sama-sama menjalani penerbangan perdana. Rasa takut yang berlebihan selalu saja menghantui pikiranku. Entah kenapa aku selalu membayangkan bagaimana jika pasporku hilang, pasti aku akan ditangkap kemudian dipenjara, atau dipulangkan dengan paksa. huuh, ada-ada saja temanku itu. Dia selalu menakut-nakutiku dengan kata-kata itu. Wajar saja aku takut, karena aku termasuk orang yang ceroboh. Bagaimana tidak, aku pernah kehilangan 1 unit tas di bandara 2 tahun lalu. Suasana bandara yang ramai membuatku konsentrasiku sedikit kacau, aku kehilangan fokus dan menjelma menjadi orang yang pelupa. Setelah melewati proses pemeriksaan di imigrasi akhirnya kami keluar dan dua gadis cantik sudah menunggu kami dari kejauhan. Perasaanku melihat dia masih biasa-biasa saja, tidak ada rasa gugup atau malu-malu. Meskipun sedikit canggung, aku mulai membiasakan diri dengannya. Ku beranikan diri untuk memulai pembicaraan. Sesekali kugoda dia dengan kata-kata yang usil. Hingga akhirnya suasana menjadi cair, dan tidak ada lagi situasi dingin seperti beberapa bulan silam ketika kami bertemu di rumahku.
Sungguh menjadi kehormatan bagiku bisa menumpang tidur dirumahnya. Apalagi kedatangan kami disambut baik oleh keluarganya. Dengan sedikit waktu tersisa kami dipersilahkan untuk beristirahat hingga pagi datang. Aku masih tidak bisa membayangkan malam itu aku berada satu rumah dengan gadis yang selama ini hanya kujumpai di dunia maya. Tentu saja kesempatan langka ini tidak akan kusia-siakan begitu saja. Aku akan menjalani beberapa hari dengannya. Dimanapun itu kami akan selalu bersama dan aku akan memperlakukannya dengan baik. Tugasku hanya membuat hari liburnya tidak sia-sia dan merasa lebih baik dengan kehadiranku bersamanya.
Selama ini aku merasakan kehadirannya sebagai seorang keponakan yang penuh perhatian. Hingga aku pun menyimpan kepedulian terhadapnya. Aku ingin kelak dia tumbuh menjadi pribadi yang jenius dan ahli dibidang yang dia sukai. Setauku dia adalah pengagum dunia sastra. Pilihannya tidak salah karena dia memang memiliki bakat dibidang itu.
Liburan pertamaku dengannya mengungkap banyak rahasia yang selama ini tak pernah kusadari. Sikapnya yang manja membuat hatiku tersentuh. Hampir disetiap kesempatan dia selalu menidurkan kepalanya dibahuku. Hampir disepanjang jalan dia ada disampingku. Bahkan dia adalah orang yang menemaniku ketika aku menyaksikan pertandingan tim kesayangku di layar kaca. Aku melihatnya sebagai sosok yang setia. Ya selama disana aku merasakan dia begitu menyayangiku sebagai seorang paman. Aku jadi merasa bersalah karena aku tidak pernah menganggapnya sebagai keponakan kesayangan. Aku menyesal karena ternyata dia jauh lebih pantas disebut sebagai keponakan kesayangan.
Aku jadi teringat bagaimana dia tidur begitu pulas dipangkuanku. Bahkan aku tidak bisa bebas bergerak karenanya. Sungguh hatiku mulai berdebar ketika itu. Sebelumnya dia juga beberapa kali menyandarkan kepalanya ke bahuku yang besarnya tidak seberapa. Akan tetapi rasa berdebar itu baru muncul ketika dia tidur dipangkuanku, ketika dia hendak mengantarku pulang. Aku menjadi cemas, aku sedih, bahkan aku terpaksa berpura-pura tidur untuk menutupi kesedihan itu. Disaat itu aku mulai berpikir, kehadirannya mulai berarti. Ternyata aku tidak rela dan belum siap untuk meninggalkannya. Dalam perjalanan menuju bandara aku terbayang dengan kisah kami di Singapore yang tidak akan pernah kulupakan. Setibanya di bandara rasa gugup itu mula bertambah. Entah kenapa, ketika dia mengajakku berfoto untuk terakhir kali, aku merasa sangat gugup. Tiba-tiba aku merasakan ada perubahan dengan perasaan ini. Ah, jangan ngaco. Aku tidak mungkin menyukai nya seperti aku menyukai gadis lain. Dia itu keponakanku, dia itu bagian dari keluarga. Tidak mungkin aku mengada-ngada. Begitulah aku mencoba meyakinkan diriku sendiri tentang perasaan aneh itu. Sampai akhirnya aku mendapat kabar dia telah meneteskan air mata untuk kepergianku. Jujur, ketika aku benar-benar berpisah darinya, aku seperti kehilangan setengah semangat hidup. Aku tidak seperti seseorang yang kembali kerumah, justru aku seperti orang yang baru saja meninggalkan rumah.
Entah bagaimana, perasaan kehilangan ini benar-benar menghantuiku. Tadinya kupikir dia hanya bercanda. Tapi setelah aku kembali ke layar komputer dirumah, aku melihat sendiri betapa sedihnya dia. Aku merasa bersalah karena sudah membuat dia sedih. Perasaan aneh ini membuatku terus bertanya. Seberapa pentingnya dia sampai-sampai aku tidak pernah berhenti memikirkannya?. Aku selalu berusaha melindungi diri dengan menganggap semua ini biasa saja. Akan tetapi, perasaan ini memang tidak bisa dibohongi. Ternyata benar kata orang, Kebersamaan itu akan mendatangkan cinta.
Aku terkejut dengan sikapnya yang aneh. Seumur hidup, bahkan ibuku saja tak pernah sesedih itu ketika aku meninggalkannya. Sungguh aku terharu dengan sikapnya. Bahkan berhasil menyentuh hatiku yang dalam. Aku yakin dia pasti menyimpan rasa yang tidak biasa. Sampai akhirnya kuberanikan diri untuk bertanya padanya. Awalnya dia tidak bisa menjawab, karena dia bingung dengan perasaannya sendiri. Kucoba untuk meyakinkannya. Aku berkata jujur. Ku luapkan semua yang kurasa. Hingga akhirnya dia tau bahwa sekarang aku tidak hanya menganggapnya sebagai bocah lagi. Dia telah menyalakan kembali api cinta yang sudah lama padam. Dia telah membuka pintu hatiku yang terkunci begitu lama. Akhirnya diapun mengakui bahwa dia juga memiliki perasaan yang sama.
Posisiku sulit karena aku tau dia sudah menyayangi orang yang lebih pantas. Semua memang terlambat, mengapa tidak dari dulu? begitu sesalnya. Aku tawarkan pilihan. Meskipun sempat kebingungan namun dia sudah menjatuhkan pilihan yang bijaksana. Aku menghargai keputusan itu meskipun berat. (to be continued)